Cirebon, Global Post
Penerimaan
Siswa Baru (PSB) di SMA Negeri 1 Arjawinangun Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Angkatan Tahun 2011-2012 dinilai tidak transparan. Pasalnya penerimaan siswa
yang diluar passing gride hampir satu kelas banyak titipan para pehabat,
sehingga ditemukannya keganjilan pada PSB di SMA Negeri Arjawinangun. Di antaranya ada siswa dengan
nilai Ujian Nasional (UN) yang nilainya besar tidak diterima. Sebaliknya siswa
yang bernilai UN lebih kecil malah diterima, Kecurangan dalam penerimaan siswa
baru (PSB) di SMAN 1 Arjawinangun mulai terbongkar. Puluhan siswa baru yang
nilai Ujian Nasionalnya di bawah passing grade diketahui masuk lewat jalur belakang.
Sekretris Jendral Forum Mahasiswa
Bersatu (FMB) Indonesia di Cirebon, Ade Sukrisna meminta agar Dinas Pendidikan
(Dindik) Kabupaten Cirebon menindak tegas sekolah yang terindikasi melakukan
kecurangan dalam PSB.
Ia meminta disdik memberikan
sanksi tegas bagi kepala sekolah yang melakukan indikasi pelanggaran PSB
tersebut. Pihaknya juga mensinyalir modus siswa titipan dalam proses PSB tahun
ini terjadi di sekolah lainnya di Kabupaten Cirebon.
Informasi yang berhasil dihimpun,
siswa baru yang kebanyakan merupakan titipan pejabat ini jumlahnya cukup
banyak, yakni mencapai 40 siswa. Bagi siswa yang masuk melalui jalur khusus ini
mereka harus membayar biaya masuk yang sudah ditetapkan pihak sekolah yakni
Rp3,8 jut rupiah.
“Kami akui ada penerimaan siswa baru
yang nilainnya di bawah passing grade tapi hal ini sudah dibicarakan dengan
komite sekolah,” ujar Kapala SMAN 1 Arjawinangun, H.Sukardi saat dihubungi via
ponselnya.
Ketika Global Post konfirmasikan
hal tersebut kepada Drs. K. Sukardi, M. Pd melalui telephon selullarnya
mengatakan bahwa dalam Penerimaan PSB dirinya tidak tahu menahu dan semuanya
sudah melalui rapat komite Sekolah, tandasnya.
Diungkapkan Sukardi, bahwa ada
sekitar 43 siswa yang masuk melalui jalur titipan ini dan jumlah biaya yang
diminta sudah dimusyawarahan dengan komite sekolah. “Biaya tersebut rencananya
untuk membangun Ruang Kelas Baru (RKB) dan pengecatan seluruh kelas, Pihaknya
mengaku mengakomodir siswa yang nilainya dibawah passing grade karena banyaknya
tekanan yang datang dari pejabat yang datang menitipkan anak atau saudara
mereka.“Orang yang menitipkan dari korem, polsek, polres LSM sampai wartawan,”
kata Sukardi.
Alasan pihak sekolah mengakomodir
para siswa titipan pejabat tersebut, tambah Sukardi, karena saat ini uang bangunan
tidak ada. Uang bantuan dari bupati untuk program dana sumbangan pendidikan
(DSP) dinilai kecil. “Coba tanya ke bupati, berapa memberikan bantuan untuk
persiswa berapa? Dan wartawan harus tahu itu. Dan kami minta tolong kepada
wartawan kalau memberitakan salah, maka kami akan menuntutnya,” katanya. (Moch
Mansur)
Poskan Komentar